Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Ambil hikmah dari segalanya

IMAM BUKHORI

Al Bukhari memang seorang imam dan ulama ahli hadits yang jempolan. Boleh dibilang, beliau adalah ahli hadits nomer satu di dunia. Tidak ada yang dapat menandinginya dizamannya dan zaman-zaman sesudahnya. Beliau adalah maestro. Daya ingat dan kepiawaiannya di bidang hadits sudah teruji dan diakui secara luas. 

                Semasa hidupnya, beliau yang bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad Bin Isma’il Bin Mughiroh bin Bardizbah Al Ju’fiy Al Bukhariy ini berkelana ke berbagai kota untuk mencari hadits dan menebarkan ilmunya. Diantara kota yang beliau kunjungidan tinggali adalah Baghdad. 

                Kala itu Baghdad adalah pusat ilmu pengetahuan. Sejumlah ulama terkemuka dari berbagai bidang ilmu tinggal disana. Kedatangan Imam Al Bukhari disana yang sudah terkenal akan keilmuannya itu disambut dengan antusias. Timbul hasrat para muhadditsin disana yang ingin menguji ilmu dan keahlian beliau.

                Maka berkumpullah mereka untuk membahas cara-cara untuk menguji beliau. Dalam pertemuan itu mereka sepakat untuk menghimpun 100 hadits dengan rangkaian sanadnya masing-masing. Hadits-hadits itu kemudian diacak sanad-sanadnya. Sanad hadits A ditukar dengan sanad hadits B dan sanad hadits B ditukar dengan sanad hadits , dan begitu seterusnya. 

                Sebagai contoh, dimasing-masing hadits ini terdapat tulisan yang bergaris bawah dan yang berhuruf tebal. Yang berhuruf tebal adalah teks (Matan) hadits alias sabda Rasulullah SAW. Sedang yang bergaris bawah adalah sanad, berisi rangkaian periwayat hadits dari perawi terakhir hingga sahabat yang langsung menerima hadits dari Nabi SAW. Misalnya, dalam hadits pertama , perawi terakhir mengaku menerima hadits dari seorang guru yang bernama Abu bakar. Abu Bakar menerimanya dari Abu Syaibah dan Abu Kuraib, keduanya dari Abu Muawiyah. Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dan begitu seterusnya. Sedang pada hadits kedua, perawi terakhir mnerima hadits dari gurunya, Abu Thahir. Abu Thahir menerimanya dari Abdullah bin Wahb, Abdullah dari Haiwah bin Syuraih, Haiwah dari ibnul Had dan seterusnya.

                Ini adalah rangkaian yang benar, kemudian hadits itu diacak. Sanad hadits pertama dipasangkan dengan hadits kedua, sanad hadits kedua dipasangkan dengan hadits lain. Atau, mungkin saja, kedua hadits tersebut saling ditukar sebagai berikut :

                Ke-100 hadits yang telah diacak itu mereka berikan kepada 10 orang masing-masing mendapatkan 10 hadits. Mereka disuruh untuk menghadiri majelis Imam Al Bukhari pada hari tertentu dan menanyakan hadits-hadits tersebut kepada sang Imam. Ada kemungkinan, hadits yang ditanyakan oleh seorang dari mereka, sanandnya telah dipasangkan dengan hadits yang ditanyakan oleh lelaki lain.

                Pada hari yang ditentukan mereka datang ke majelis Al Bukhari. Ternyata, disana telah ramai orang. Majelis itu dihadiri oleh pentolan-pentolan ahli hadits. Tidak hanya dari baghdad, tapi juga dari Khurasan dan daerah-daerah lain.

                Ketika majelis itu telah menjadi tenang, seorang dari ke-10 lelaki tadi maju. Dia menanyakan hadits yang sanadnya sudah ditukar. “Saya diberitahu fulan , si fulan diberitahu fulan, dan seterusnya, fulan dari Rasulullah SAW , beliau bersabda…. “ lalu disebutlah sabda beliau . Imam Al Bukhari kemudian menjawab “Aku tidak tahu”

                Lalu ia menyebutkan hadits lain dengan hadits yang tertukar. Imam Al Bukhari menjawab, “Aku tidak tahu.” Dan begitu seterusnya hingga dia menyebutkan 10 hadits. Semuanya dijawab oleh Imam Al Bukhari dengan, “Aku tidak tahu.”

                Orang-orang yang hadir saling beradu pandang. Yang tahu bahwa hadits-hadits itu telah tertukar sanadnya, termasuk para ahli hadits Baghdad yang telah merancang pengujian tersebut berkata, “Lelaki ini (Al Bukhari) paham.” Sementara yang tidak tahu mencibir beliau. Beliau dianggap lemah daya hafalnya dan dangkal pengetahuannya tentang hadits. “Ah ternyata dia tidak seperti namanya. Hadits-hadits itu saja ia tidak tahu.” Kira-kira begitulah mereka berkata pada teman mereka.

                Kemudian, lelaki kedua maju. Dia menyebutkan sebuah hadits dengan sanad yang tertukar. “Aku tidak tahu,” jawab Al Bukhari. Lalu disebutkan hadits lain. Imam kita menjawab dengan jawaban yang sama. Dan begitu seterusnya hingga 10 hadits.

                Orang-orang yang hadir kembali saling beradu pandang. Mereka bertambah heran. Yang tidak tahu bahwa hadits itu telah tertukar sanadnya mencibir beliau. Mereka menganggap Imam Al Bukhari lemah hafalannya, dangkal ilmunya, serta dangkal pula pengetahuannya tentang  hadits. Mereka menganggap  ia tidak sesuai dengan ketenaran namanya.

                Lelaki ketiga maju. Seperti kedua temannya tadi, ia menanyakan 10 hadits yang juga telah diacak sebelumnya dengan menukar sanadnya. Kembali Imam Al Bukhari berkata, “Aku tidak tahu,” setiap si lelaki menyelesaikan sebuah hadits. 

                Kemudian, maju lelaki keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh. Semua dijawab, “Aku tidak tahu,” oleh Imam Al Bukhari.

                Imam Al Bukhari menunggu, barangkali masih ada orang lain yang hendak maju untuk bertanya. Ternyata tidak ada. Semua orang diam. Beliau pun menoleh kearah lelaki pertama. “Adapun haditsmu yang pertama, bunyinya adalah begini, dan sanadnya adalah begini.” Disebutkannya hadits itu dengan tepat beserta sanad-sanadnya yang benar. “Adapun haditsmu yang kedua, bunyinya seperti ini, dan sanadnya adalah…..” dan begitu seterusnya beliau menyebutkan satu persatu dari sepuluh hadits yang telah ditanyakan tadi sembari mengembalikan sanadnya yang benar.

                Kemudian beliau menoleh ke arah lelaki yang kedua. “Haditsmu yang pertama bunyinya seperti ini, dan sanadnya ini. Haditsmu yang kedua bunyinya begini, dan sanadnya ini. “ dan begitu seterusnya hingga 10 hadits. Semua disebutkannya dengan lafal yang benar dan sanad yang tepat pula. Beliau mengembalikan tiap-tiap matan (Teks) hadits ke sanadnya yang benar, dan sanad ke matannya yang benar pula sampai hadits yang keseratus.

                Seluruh orang yang hadir berdecak kagum. Semua terpana oleh daya ingat Imam yang begitu kuat. Semua mengagumi dan mengakui ketinggian serta penguasaan ilmu hadits beliau yang luar biasa. Imam Al Bukhari memang tak tertandingi……!

Sumber : Hikayat, Cahaya Nabawiy.

Artikel keren lainnya:

Memandang wajah orang alim adalah ibadah


Ada suatu kaum yang daerah tempat mereka tinggal tidak turun hujan hingga bertahun-tahun. ­ Mereka sudah hampir mati. Shalat Istisqa’ dilakukan berkali-kali, tetapi hujan tidak kunjung datang.
Kemudian ada seorang yang dianggap awam, memasuki daerah tersebut dan berkata: “Wahai hadirin. Apa yang kalian lakukan?”
“Istisqa’. Minta hujan”, jawab mereka.
“Bolehkah saya membantu berdoa agar hujan turun?”
“Lha wong orang sedesa sudah doa dan istisqa’ belum juga turun hujan, kok sampean berani nantangturun hujan?”
“Mungkin doa saya diterima oleh Allah.”
“Ya sudah kalau begitu, monggo silakan.”
Kemudian orang asing tersebut menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa: “Ya Allah, berkat apa yang ada dimataku ini, tolong turunkan untuk mereka hujan ya Allah.”
Tidak lebih dari 10 menit langit mendung. Tidak sampai setengah jam kemudian turunlah hujan. Mereka bertanya:
“Apa doa yang kau lakukan?”
“Saya hanya tawasul dengan amal saya.”
“Apa amalan yang ada di matamu?”
“Saya hanya tawasul dengan mata saya yang pernah memandang seorang wali dan ulama, bernama Abu Yazid al-Busthami.”
Memandang wajah seorang alim adalah ibadah. Ini merupakan salah satu kemuliaan yang diberikan Allah kepada hambaNya yang berilmu. Berdoa agar keinginan dikabulkan oleh Allah melalui tawasul dengan amal, dalilnya tentu sudah kita ketahui. Karena haditsnya shahih dan masyhur. Yaitu hadits tiga orang yang terperangkap di dalam gua.
Wallahu a’lam
                                                 

Artikel keren lainnya:

Kutipan Ceramah Habib Jamal Ba'agil

Berkata Syaikhi Achmad Jamal Baagil  Dalam salah satu pesannya:  Kehidupan mengajarkan kepadaku untuk tidak berlebihan mencintai apapun & siapapun yang bakal menyatu dengan tanah. Yang pasti akhirannya adalah perpisahan, ditinggal & akan sirna
Kecintaan kita kepada jabatan, harta, dan dunia, ini hanyalah akan berjalan sementara, setelah kematian mejemput maka itu semua akan kita tinggalkan, tanpa ada yang kita bawa kecuali beberapa helai kain kafan. Seorang yang mencintai dunia berlebihan, dan ia melupakan اللّهُ Swt maka ia telah menyiksa dirinya sendiri dengan siksaan yang sangat pedih.
Dikisahkan Usamah Bin Zaid mengadu kepada Nabi Saw tentang kerasnya hati. Maka Nabi meletakkan tangannya ke dada Usamah seraya berkata: "Keluarlah wahai musuh اللّهُ..!!" Maka keluarlah air mata Usama. Nabi pun berpesan:
"Buta Mata" Sebab dari kekerasan hati, kerasnya hati sebab dari banyaknya dosa, dan banyaknya dosa sebab dari melupakan mati, lupa mati sebab dari panjang angan². panjang angan² sebab dari cinta dunia, dan cinta dunia adalah sumber dari segala kemaksiatan.
                                      

Artikel keren lainnya:

Kalam Hikmah


  • Awali harimu dengan BISMILLAH,pasti kau akan mendapat banyak barokah"
  • Bahagiakanlah orang-orang di sekitarmu ,dengan INDAHNYA AKHLAK dan BUDI PEKERTIMU
  • Akhirat itu INDAH,tidak akan suka kepada akhirat,kecuali orang yang indah...”
  •  Saat kau gelisah. ..coba pejamkan matamu ,kemudian ucapkan kalimat "YA ALLAH" dari lubuk hatimu yang terdalam... insyaAllah kegelisan itu akan di gantikan dengan KEINDAHAN oleh Allah SWT
  • Selalu ingat nama ALLAH di segala keadaan dan TANCAPKAN nama itu di lubuk hatimu yang paling dalam,pasti hidupmu akan menjadi tenang"  
  • Buatlah ALAM yang indah ini,sebagai sesuatu yang membantumu membuat amal-amal ibadahmu menjadi indah "
  • Nikmat yang paling indah ,ialah nikmat yang mampu membuatmu semakin dekat dengan YANG MAHA INDAH
  • Yang berbuat keindahan akan mendapat balsan yang lebih indah dari YANG MAHA INDAH

Artikel keren lainnya:

NAMA-NAMA ASHAB BADR

17 Romadhon adalah peristiwa besar dalam islam
yaitu PERANG BADR.
Berikut nama2 sahabat yg ikut perang badr
bersama
Nabi Muhammad SAW :
1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w.
2. Abu Bakar as-Shiddiq r.a.
3. Umar bin al-Khattab r.a.
4. Utsman bin Affan r.a.
5. Ali bin Abu Tholib r.a.
6. Talhah bin ‘Ubaidillah r.a.
7. Bilal bin Rabbah r.a.
8. Hamzah bin Abdul Muttolib r.a.
9. Abdullah bin Jahsyi r.a.
10. Al-Zubair bin al-Awwam r.a.
11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim r.a.
12. Abdur Rahman bin ‘Auf r.a.
13. Abdullah bin Mas’ud r.a.
14. Sa’ad bin Abi Waqqas r.a.
15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
16. Anasah al-Habsyi r.a.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib r.a.
24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah r.a.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
26. Salim (maula Abu Huzaifah) r.a.
27. Sinan bin Muhsin r.a.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
31. Syuja’ bin Wahab r.a.
32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
33. Yazid bin Ruqais r.a.
34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
35. Rabi’ah bin Aksam r.a.
36. Thaqfu bin Amir r.a.
37. Malik bin Amir r.a.
38. Mudlij bin Amir r.a.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
46. Al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
47. Mas’ud bin Rabi’ah r.a.
48. Zus Syimalain Amru bin Amru r.a.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
50. Amir bin Fuhairah r.a.
51. Suhaib bin Sinan r.a.
52. Abu Salamah bin Abdul Asad r.a.
53. Syammas bin Uthman r.a.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
55. Ammar bin Yasir r.a.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
57. Zaid bin al-Khattab r.a.
58. Amru bin Suraqah r.a.
59. Abdullah bin Suraqah r.a.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) r.a.
62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi r.a.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
65. Amir bin Rabi’ah r.a.
66. Amir bin al-Bukair r.a.
67. Aqil bin al-Bukair r.a.
68. Khalid bin al-Bukair r.a.
69. Iyas bin al-Bukair r.a.
70. Uthman bin Maz’un r.a.
71. Qudamah bin Maz’un r.a.
72. Abdullah bin Maz’un r.a.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
74. Ma’mar bin al-Harith r.a.
75. Khunais bin Huzafah r.a.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
77. Abdullah bin Makhramah r.a.
78. Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
80. Hatib bin Amru r.a.
81. Umair bin Auf r.a.
82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
84. Amru bin al-Harith r.a.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
86. Safwan bin Wahab r.a.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
88. Sa’ad bin Muaz r.a.
89. Amru bin Muaz r.a.
90. Al-Harith bin Aus r.a.
91. Al-Harith bin Anas r.a.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi r.a.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi r.a.
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
102. Abdullah bin Sahl r.a.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
104. Ubaid bin Aus r.a.
105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd r.a.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi r.a.
108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah r.a.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
123. Tha’labah bin Hatib r.a.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi r.a.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
130. Jubr bin ‘Atik r.a.
131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
133. Abdullah bin Jubair r.a.
134. Asim bin Qais bin Thabit r.a.
135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
137. Salim bin Amir bin Thabit r.a.
138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah r.a.
142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
148. Abdullah bin Rawahah r.a.
149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah r.a.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
154. Abdullah bin Abbas r.a.
155. Yazid bin al-Harith bin Qais r.a.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah r.a.
158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah r.a.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
161. Abdullah bin Umair r.a.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
163. Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai r.a.
166. Aus bin Khauli bin Abdullah r.a.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
170. Amir bin Salamah r.a.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
172. Amir bin al-Bukair r.a.
173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah r.a.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
176. Aus bin al-Somit r.a.
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah r.a.
178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
182. Amru bin Iyas r.a.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
194. Dhamrah bin Amru r.a.
195. Ziyad bin Amru r.a.
196. Basbas bin Amru r.a.
197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
202. Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
207. Hubaib bin Aswad r.a.
208. Thabit bin al-Jiz’i r.a.
209. Umair bin al-Harith bin Labdah r.a.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr r.a.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid r.a.
222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
225. Abdullah bin Abdi Manaf r.a.
226. Jabir bin Abdullah bin Riab r.a.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
228. An-Nu’man bin Yasar r.a.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
233. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid r.a.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman r.a.
242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah r.a.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
245. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
257. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari r.a.
260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza r.a.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid r.a.
268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
272. Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
274. Ishmah al-Asyja’i r.a.
275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru r.a.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit r.a.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit r.a.
285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith r.a.
286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi r.a.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
291. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.
292. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim r.a.
295. Sulaim bin Milhan r.a.
296. Haram bin Milhan r.a.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
299. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah r.a.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah r.a.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal r.a.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
313. Oleh bin Syuqrat r.a. (khadam Nabi s.a.w.)

# Bibarokatihim_Lahumul_Faatihah

Artikel keren lainnya:

KUTIPAN CERAMAH YANG MENGGETARKAN JIWA OLEH HABIB MUNDZIR


Namun tujuan adalah satu yaitu saat
berjumpaan dengan Robbul Alamin
berakhir seluruh apa yang kita
lewati, dari kehidupan dunia kepada
tujuan tunggalnya yaitu berjumpa
dengan Allah, hadirin hadirot
ingatlah kan datang suatu saat bibir
kita tidak bisa lagi bergetar
menyebut nama Allah, disaat itu kita
diturunkan ke dalam kubur kita dan
wajah kita dibuka dan wajah kita di
ciumkan ke tembok kubur kita lalu
kita dikuburkan dan ditinggal oleh
semua kerabat, disaat itu tidak ada
kekasih, disaat itu tidak ada
jabatan, disaat itu tidak ada harta
itulah hadirin hadirat kita sendiri
dan disaat itu beruntunglah mereka
yang selalu berdzikir yang mengingat
Allah dan Allah mengingatnya, yang
merindukan Allah, Allah
merindukannya. Dia lah yang Maha
Baik, Dia lah yang Maha Mulia,
setelah kita diberi kehidupan, diberi
jasad, lantas Allah meminjamkan
pula dunia ini beserta isinya
meminjamkan matahari,
meminjamkan bulan, meminjamkan
daratan, meminjamkan hewan dan
tumbuhan, meminjamkan air dan
lautan yang kesemuanya adalah milik
Allah, kita tidak menyewanya, tidak
pula membelinya, tidak pula berdo’a
untuk meminjamnya, Allah yang
memberinya sebelum kita meminta.
Hadirin, hadirat sedemekian luasnya
rahmat illahi dan kasih sayangnya
melebihi semua kasih sayang,
melebihi kasih sayang ibunda kita
kepada kita, melebihi kasih sayang
kekasih kita kepada kita.
Hadirin, hadirat jangan tahan
lidahmu menyebut nama Allah,
jangan berat menyebut nama Allah,
dosa apa yang membuat lidah kita
berat menyebut nama Allah, kami
berlindung kepadaMu dari pedihnya
siksa kubur, kami berlindung padaMu
dari pedihnya siksa neraka, pastikan
kami selamat dari ini semua.
Akan datang waktunya aku dan
kalian akan berdiri di hadratul khaliq
dihadapan Robbul Alamin Subhanahu
wa ta’ala dipanggil dengan namamu
fulan bin fulan ayarida alallah ...
disaat itu kau akan berjumpa
dengan ?? Allah, bertemu dengan ??
Allah, berbicara dengan ?? Allah.
Ditanya oleh Allah,
bertanggungjawab kepada Allah,
adakah nama itu didalam jiwa kita
luhur, adakah nama itu indah dalam
jiwa kita, adakah terlintas
kerinduan dalam perjumpaan dengan
Allah .....

Artikel keren lainnya:

KASIH SAYANG ROSUL SAW TERHADAP ANAK YATIM


"Diceritakan suatu hari Nabi SAW keluar untuk melaksanakan solat idul fitri.
Pada saat berjalan Nabi SAW melewati sekelompok anak kecil yang sedang bermain dengan mengenakan baju baru di hari id itu,namun di antara anak2 kecil yang sedang gembira itu,ada satu anak yang mengenakan baju tembelan dan kusut dan dia dalam keadaan menangis.
Maka Nabi SAW pun menghampiri anak tersebut seraya berkata,:"Wahai anak kecil kenapa kau menangis dan tidak ikut bermain dengan teman2mu...?Anak kecil itu tidak mengetahui bahwa yang bertanya kepadanya adalah Nabi Muhammad SAW,maka anak kecil itupun menjawab ,:"Wahai paman,Ayahku telah meninggal dunia ketika ia sedang berperang bersama Rosulullah SAW,kemudian ibuku menikah dengan orang lain dan ia memakan hartaku,dan aku telah di usir dari rumahku oleh suami barunya....Dan sekarang akau tidak memiliki makanan,minuman,pakaian bahkan rumah pun aku tak punya, ketika aku melihat kepada teman2ku yang masih memiliki seorang ayah,aku pun teringat kepada Ayahku dan itulah yang membuatku menangis....
Setelah mendengar ucapan anak kecil tadi,maka Rosul SAW pun memegang tangan anak tersebut seraya berkata,;"Wahai anak kecil ,apakah engkau tidak ridho jika Aku menjadi ayah bagimu,Dan Aisyah menjadi ibumu,Ali menjadi pamanmu ,Hasan dan Husein menjadi saudaramu dan Fatimah menjadi kakak perempuanmu....?
Setelah mendengarnya,anak kecil itu pun tau bahwa orang itu adalah Rosulullah SAW,maka dia pun berkata,:"Kalau begitu aku sangatlah ridho wahai Rosulullah SAW..."
Rosul SAW pun membawa anak kecil tersebut kerumah-Nya dan Rosul SAW memakaikannya pakaian baru,memberinya makan,dan mewangikan tubuhnya...Anak kecil itu pun berlari keluar dalam keadaan senang dan gembira.....
Maka ketika teman2nya melihatnya tersenyum gembira mereka pun bertanya kepadanya,:"Kau tadi menangis dan sedih dan apakah sekarang yang membuatmu tersenyum gembira...?Anak kecil itu pun menjawab,:"Tadi aku merasa sangat lapar dan sekarang aku telah kenyang,tadi aku telanjang dan sekarang aku memiliki pakaian ,dan tadi aku adalah seorang anak yatim,maka sekarang Rosul SAW adalah ayahku,Sayidatuna Aisyah adalah ibuku, Sayidina Hasan dan Husein adalah saudaraku,Sayidina Ali adalah pamanku dan Sayidatuna Fatimah adalah kakak perempuanku,apakah aku tidak gembira dengan semua ini...."
Para Pecinta Rosul SAW....Begitu indah sekali kasih sayang Rosul SAW....Semoga dengan cerita di atas membuat kita bisa semakin berbuat baik kepada semua orang ,terlebih2 kepada anak yatim....Karena membuat orang lain bahagia adalah termasuk amalan yang sangat di cintai oleh Allah SWT......

Artikel keren lainnya:

SYAIR INDAH YANG MEMBUAT IMAM BESAR MENANGIS

Dikisahkan, ada seseorang yang mendatangi Al-Imam Ahmad dan bertanya kepada beliau, “Wahai Imam, bagaimana menurut anda mengenai sya’ir ini?“
Beliau menjawab, “Sya’ir apakah ini?” di mana orang tersebut membaca sya’ir berikut
إذا ما قال لي ربي اما استحييت تعصيني
Jika Rabb-ku berkata kepadaku, “Apakah engkau tidak malu bermaksiat kepada-Ku?”
وتخفي الذنب عن خلقي وبالعصيان تأتيني
Engkau menutupi dosamu dari makhluk-Ku tapi dengan kemaksiatan engkau mendatangi-Ku
فكيف أجيبُ يا ويحي ومن ذا سوف يحميني؟
Maka bagaimana aku akan menjawabnya? Aduhai, celakalah aku dan siapa yang mampu melindungiku?
أسُلي النفس بالآمالِ من حينٍ الى حيني
Aku terus menghibur jiwaku dengan angan-angan dari waktu ke waktu
وأنسى ما وراءُ الموت ماذا بعد تكفيني
Dan aku lalai terhadap apa yang akan datang setelah kematian dan apa yang akan datang setelah aku dikafani
كأني قد ضّمنتُ العيش ليس الموت يأتيني
Seolah-olah aku akan hidup selamanya dan kematian tidak akan menghampiriku
وجائت سكرة الموتُ الشديدة من سيحميني
Dan ketika sakaratul maut yang sangat berat datang menghampiriku, siapakah yang mampu melindungiku?
نظرتُ الى الوُجوهِ أليـس منُهم من سيفدينـــي
Aku melihat wajah-wajah manusia, tidakkah ada di antara mereka yang akan menebusku?
سأسأل ما الذي قدمت في دنياي ينجيني
Aku akan ditanya tentang apa yang telah aku persiapkan untuk dapat menyelamatkanku (di hari pembalasan)
فكيف إجابتي من بعد ما فرطت في ديني
Maka bagaimanakah aku dapat menjawabnya setelah aku melupakan agamaku
ويا ويحي ألــــم أسمع كلام الله يدعوني
Aduhai sungguh celakalah aku, tidakkah aku mendengar firman Allah yang menyeruku?
ألــــم أسمع لما قد جاء في قاف ويسِ
Tidakkah aku mendengar apa yang datang kepadaku (dalam surat) Qaaf dan Yasin itu?
ألـــم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع و الديني
Tidakkah aku mendengar tentang hari kebangkitan, hari dikumpulkannya (manusia), dan hari pembalasan?
ألـــم أسمع مُنادي الموت يدعوني يناديني
Tidakkah aku mendengar panggilan kematian yang selalu menyeruku, memanggilku?
فيا ربــــاه عبدُ تــائبُ من ذا سيؤويني
Maka wahai Rabb-ku, akulah hambamu yang ingin bertaubat, siapakah yang dapat melindungiku?
سوى رب غفور واسعُ للحقِ يهديني
Melainkan Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Luas Karunianya, Dialah yang memberikan hidayah kepadaku
أتيتُ إليكَ فارحمني وثقــّـل في موازيني
Aku datang kepada-Mu, maka rahmatilah diriku dan beratkanlah timbangan (kebaikanku)
وخفَفَ في جزائي أنتَ أرجـى من يجازيني
Ringankanlah hukumanku, sesungguhnya hanya Engkaulah yang kuharapkan pahalanya untukku
Al-Imam Ahmad terus melihat bait-bait sya’ir tersebut dan mengulang-ulangnya kemudian beliau menangis tersedu-sedu. Salah seorang muridnya mengatakan bahwa beliau hampir pingsan karena begitu banyaknya menangis.

Artikel keren lainnya:

KEMATIAN ADALAH NASEHAT YANG PALING BAIK

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِTiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Āli `Īmrān [3]: 185)

Kematian adalah langkah awal dari perjalanan agung yang memisahkan suami dari istrinya, orang tua dari anaknya, kekasih dari yang dicintainya dan saudagar dari kekayaannya. Perjalanan yang bermuara kepada keabadian; kenikmatan Surga atau kesengsaraan Neraka. Kematian merupakan hal yang diyakini namun sering kali sengaja dilupakan atau terlupakan; perkara yang diketahui akan tetapi begitu banyak diabaikan

Tidak cukupkah kematian sebagai nasehat? Bayangkanlah ketika datangnya kematian dengan sekaratnya, alam kubur dengan kesunyian dan kegelapannya, hari kebangkitan dengan detail perhitungannya, serta Neraka dengan siksanya yang kekal atau Surga dengan kenikmatannya nan abadi.
Kita masih saja terperdaya oleh kelezatan dunia yang fana. Saat kematian membawa kita ke kubur, adakah kenikmatan dunia yang masih terasa? Semuanya musnah tak berbekas. Mana rumah yang megah, pakaian yang indah, wajah yang rupawan, tubuh yang bagus, istri yang jelita, kekasih yang dicintai, anak yang dibanggakan, jabatan yang tinggi dan kedudukan yang terhormat? Kita terbenam dalam tanah. Di atas, bawah, kanan dan kiri kita hanyalah tanah. Tiada kawan kecuali kegelapan yang sangat pekat, kesempitan dan serangga yang menggerogoti daging kita. Kita benar-benar mengharapkan kumpulan amal shalih yang mendampingi dan membantu kita, namun sayangnya harapan dan penyesalan tidak lagi berguna

Kita menganggap kematian itu berada pada posisi yang sangat jauh dari kita, padahal ia begitu dekatnya. Waktu berlalu bagaikan kedipan mata. Masa kecil dan remaja bertahun-tahun yang lalu hanyalah bagai hari kemarin, dan tanpa terasa kita telah berada di hari ini. Begitu pula yang akan terjadi dengan esok hari. Sampai kemudian kematian tiba-tiba datang menjemput kita untuk mengarungi sebuah perjalanan yang sangat penjang dan berat, sementara kita belum memiliki bekal untuk itu, karena kesengajaan dan kelalaian kita

Ikhwan Rohimakumullah,oleh karena itu mari kita manfaatkan umur kita dengan sebaik baiknya,yaitu dengan kita gunakan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,sebelum datang penghancur keledzatan dan pemutus kenikmatan yaitu kematian
Nabi SAW bersabda:“Perbanyaklah mengingat pemutus segala
"kelezatan yakni kematian

Kematian adalah langkah awal dari perjalanan agung yang memisahkan suami dari istrinya, orang tua dari anaknya, kekasih dari yang dicintainya dan saudagar dari kekayaannya. Perjalanan yang bermuara kepada keabadian; kenikmatan Surga atau kesengsaraan Neraka. Kematian merupakan hal yang diyakini namun sering kali sengaja dilupakan atau terlupakan; perkara yang diketahui akan tetapi begitu banyak diabaikan
Tidak cukupkah kematian sebagai nasehat? Bayangkanlah ketika datangnya kematian dengan sekaratnya, alam kubur dengan kesunyian dan kegelapannya, hari kebangkitan dengan detail perhitungannya, serta Neraka dengan siksanya yang kekal atau Surga dengan kenikmatannya nan abadi.Kita masih saja terperdaya oleh kelezatan dunia yang fana. Saat kematian membawa kita ke kubur, adakah kenikmatan dunia yang masih terasa? Semuanya musnah tak berbekas. Mana rumah yang megah, pakaian yang indah, wajah yang rupawan, tubuh yang bagus, istri yang jelita, kekasih yang dicintai, anak yang dibanggakan, jabatan yang tinggi dan kedudukan yang terhormat? Kita terbenam dalam tanah. Di atas, bawah, kanan dan kiri kita hanyalah tanah. Tiada kawan kecuali kegelapan yang sangat pekat, kesempitan dan serangga yang menggerogoti daging kita. Kita benar-benar mengharapkan kumpulan amal shalih yang mendampingi dan membantu kita, namun sayangnya harapan dan penyesalan tidak lagi berguna
Kita menganggap kematian itu berada pada posisi yang sangat jauh dari kita, padahal ia begitu dekatnya. Waktu berlalu bagaikan kedipan mata. Masa kecil dan remaja bertahun-tahun yang lalu hanyalah bagai hari kemarin, dan tanpa terasa kita telah berada di hari ini. Begitu pula yang akan terjadi dengan esok hari. Sampai kemudian kematian tiba-tiba datang menjemput kita untuk mengarungi sebuah perjalanan yang sangat penjang dan berat, sementara kita belum memiliki bekal untuk itu, karena kesengajaan dan kelalaian kita
Ikhwan Rohimakumullah,oleh karena itu mari kita manfaatkan umur kita dengan sebaik baiknya,yaitu dengan kita gunakan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,sebelum datang penghancur keledzatan dan pemutus kenikmatan yaitu kematianNabi SAW bersabda:“Perbanyaklah mengingat pemutus segala"kelezatan yakni kematian

Artikel keren lainnya:

WAJAH BERCAHAYA SEPERTI REMBULAN ?

Penak2 Mboco kitab ,eh kok nemu cerito ajib lur...
langsung ae tak critakno yo... smile emotikon
"Nabi Muhammad SAW ndawuh :
"Nanti pada hari kiamat akan di datangkan 3 golongan manusia...
*golongan pertama datang dengan wajah yang bersinar seperti bintang...Malaikat bertanya kepada golongan itu,"Apa amalan kalian sehingga wajah kalian bersinar bak bintang?
*Golongan itu menjawab :Kami dulu sewaktu di dunia ,ketika kami mendengar adzan ,kami langsung wudhu ,kami tinggalkan semua urusan dunia,dan bersiap2 melaksanakan solat...."*Kemudian datang golongan kedua dengan wajah yang lebih bersinar bak rembulan...Malaikat pun kembali bertanya kepada golongan kedua ini,"Apa amalan kalian sehingga wajah kalian bersinar bak rembulan?*Golongan kedua menjawab:"Dulu kami di dunia,saat adzan berkumandang kami sudah dalam keadaan berwudhu,dan bersiap siap untuk melaksanan solat..."*Golongan ketiga datang dengan wajah yang lebih bersinar dari golongan 1&2 ...wajahnya bagaikan matahari...Malaikat takjub melihatnya dan akhirnya kembali bertanya kepada golongan ketiga ini..."Apa amalan kalian sehingga wajah kalian indah bersinar bak matahari?*Golongan ketiga menjawab: Dulu kami sewaktu di dunia,saat adzan berkumandang ,kami sudah berada di dalam masjid untuk melaksanakan solat..."*Subhanalloh lur...
Dulur2 termasuk golongan nomor piro yo smile emotikon ?
Insya Allah kita semua dijadikan termasuk dari tiga golongan tersebut lur....Amiiin
‪#‎Wallahua‬'lam
Mugi-mugi manfaat 

Artikel keren lainnya:

WARISAN NABI SAW

"Diriwayatkan ketika Sahabat Nabi SAW yaitu Abu Huroiroh melewati sebuah pasar di Madinah . Kemudian Abu Horoiroh berhenti di pasar tersebut lantas beliau menyeru kepada seluruh penghuni pasar : "Wahai para penduduk pasar ,kenapa kalian berada disini ??? "Penduduk pasar pun menjawab :"memangnya ada apa Wahai Abu Huroiroh...?"...Disana sedang di bagi Warisan Rosulullah SAW sedangkan kalian tetap di sini? apakah kalian tidak ingin pergi kesana dan mengambil bagian kalian disana ??? *jawab Abu Huroiroh "
"Memangnya ada dimana wahai Abu Huroiroh? *Tanya penduduk pasar ..
Maka Abu Huroiroh berkata : Warisan itu ada di Masjid ...
.......*setelah mendengarnya, maka penduduk pasar pun beramai ramai pergi ke masjid yang telah dikatakan oleh Abu Huroiroh, sedangkan Abu Huroiroh tetap diam dipasar menunggu mereka kembali...."
..."ketika penduduk pasar telah kembali,maka Abu Huroiroh bertanya kepada mereka :"Apa yang kalian dapatkan...?
*Penduduk pasar menjawab :"Wahai Abu Huroiroh,sungguh kami telah mendatangi masjid yang kau maksud,kemudian kami masuk masjid tersebut ,akan tetapi kami tidak melihat sesuatu apapun dari warisan yang di bagi ?
*Abu Huroiroh kembali bertanya :"lalu apa yang kalian lihat di dalam masjid ?
*penduduk pasar menjawab :"yang kami lihat hanyalah orang yang sedang sholat, segerombolan orang yang sedang membaca Al-Qur'an,sekelompok orang yang sedang belajar ilmu agama...?
*setelah mendengar jawaban itu .maka Abu Huroiroh pun berkata : "Nah ...itu yang ku maksud dengan warisan Nabi Muhammad SAW .....
(*dalam Hadist :INNAL ANBIYA' LAM YUWARISU DINARRON WALA DIRHAMMAN WA INNAMA WARROSUL ILMA ..." Artinya :"SESUNGGUHNYA PARA NABI ITU TIDAK MEWARISKAN DINAR ATAUPUN DIRHAM AKAN TETAPI YANG DIWARISKAN ADALAH ILMU.....
"Memangnya ada dimana wahai Abu Huroiroh? *Tanya penduduk pasar ..Maka Abu Huroiroh berkata : Warisan itu ada di Masjid ..........*setelah mendengarnya, maka penduduk pasar pun beramai ramai pergi ke masjid yang telah dikatakan oleh Abu Huroiroh, sedangkan Abu Huroiroh tetap diam dipasar menunggu mereka kembali...."..."ketika penduduk pasar telah kembali,maka Abu Huroiroh bertanya kepada mereka :"Apa yang kalian dapatkan...?*Penduduk pasar menjawab :"Wahai Abu Huroiroh,sungguh kami telah mendatangi masjid yang kau maksud,kemudian kami masuk masjid tersebut ,akan tetapi kami tidak melihat sesuatu apapun dari warisan yang di bagi ? *Abu Huroiroh kembali bertanya :"lalu apa yang kalian lihat di dalam masjid ?*penduduk pasar menjawab :"yang kami lihat hanyalah orang yang sedang sholat, segerombolan orang yang sedang membaca Al-Qur'an,sekelompok orang yang sedang belajar ilmu agama...?*setelah mendengar jawaban itu .maka Abu Huroiroh pun berkata : "Nah ...itu yang ku maksud dengan warisan Nabi Muhammad SAW .....(*dalam Hadist :INNAL ANBIYA' LAM YUWARISU DINARRON WALA DIRHAMMAN WA INNAMA WARROSUL ILMA ..." Artinya :"SESUNGGUHNYA PARA NABI ITU TIDAK MEWARISKAN DINAR ATAUPUN DIRHAM AKAN TETAPI YANG DIWARISKAN ADALAH ILMU.....

Artikel keren lainnya:

ROSUL SAW PUN MENANGIS MENDENGAR SYAIR ITU....

"Diceritakan ada seorang lelaki yang mendatangi Beliau SAW mengadukan bahwa ayahnya telah mencuri hartanya. Rasulullah SAW kemudian berkata kepada pemuda itu, “Pergilah dan bawa ayahmu kemari”.
"Ketika pemuda tadi pergi, malaikat Jibril datang menemui Rasulullah SAW dan berkata. “Wahai Muhammad, jika orang tua pemuda itu tiba, maka tanyakanlah apa yang telah diucapakan dalam hatinya yang tidak didengar oleh ke dua telinganya”

"Setelah berkata demikian, malaikat Jibril pun pergi. Tidak lama berselang, pemuda tadi datang bersama dengan ayahnya." 

"Rasulullah SAW kemudian bertanya kepada ayah pemuda tadi, “Mengapa anakmu mengadu bahwa engkau telah mencuri hartanya?”

"Ayah pemuda tadi menjawab, “Ya Rasulullah, tanyakan kepadanya, harta itu aku dermakan kepada siapa; kepada salah seorang bibinya atau untuk diriku sendiri”

“Aku tidak akan membahas itu, tapi ceritakan lah kepadaku apa yang kau ucapkan dihatimu yang tidak didengar oleh kedua telingamu?” Tanya Rasulullah SAW sebagaimana yang diajarkan oleh malaikat Jibril sebelumnya.

“Demi ALLOH wahai Rasulullah SAW, ALLAH SWT selalu membuat kami semakin yakin kepadamu. 
"Aku memang telah mengucapkan sesuatu dalam hatiku yang tidak didengar oleh kedua telingaku”, jawab ayah pemuda tadi.

“Sampaikanlah, aku akan mendengarkannya”. Jawab Rasulullah SAW."

"Kemudian ayah pemuda tersebut secara tidak terduga membacakan sebuah syair yang ditujukan untuk sang anak."

KETIKA ENGKAU LAHIR, AKU MEMBERIMU MAKAN
HINGGA ENGKAU TUMBUH DEWASA
AKU SELALU MENJAGAMU
ENGKAU DIBERI MINUM DENGAN JERIH PAYAHKU

JIKA MALAM HARI ENGKAU DITIMPA SAKIT
MAKA, SEPANJANG MALAM AKU TIDAK TIDUR
BERJAGA MEMIKIRKAN PENYAKITMU
HINGGA TUBUHKU SEMPOYONGAN KARENA KANTUK

SEAKAN – AKAN AKU YANG SAKIT BUKAN ENGKAU
AIRMATAKU PUN MENGALIR DERAS
DAN JIWAKU KHAWATIR ENGKAU AKAN MATI
PADAHAL DIA TAHU BAHWA AJAL AKAN TIBA SESUAI WAKTUNYA

SAAT ENGKAU MENCAPAI USIA YANG TEPAT
SAAT DIMANA KUHARAPKAN KUHARAPKAN DIRIMU
KAU BALAS DIRIKU DENGAN KEKEJAMAN DAN KEKASARAN
SEAKAN – AKAN ENGKAU PEMBERI NIKMAT DAN DERMAWAN

ANDAI SAJA KETIKA TAK DAPAT KAUPENUHI HAK KU SEBAGAI AYAH
KAU PERLAKUKAN AKU SEBAGAI TETANGGA
YANG HIDUP BERDAMPINGAN


Setelah medengar syair tersebut, Rasulullah SAW kemudian berkata kepada pemuda tersebut, “DIRIMU DAN HARTAMU ADALAH MILIK AYAHMU"


"Para pecinta Rosul SAW, maka sudah sepatutnya kita semua yang merasa menjadi anak, harus berbakti kepada kedua orang tua kita. ALLAH telah mengajarkan doa yang sangat indah di surat Al – Israa’. “"….Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Artikel keren lainnya:

3 Amalan yang Abadi...

Semua amal akan terputus jika seseorang telah meninggal dunia ,kecuali 3 perkara :
1.Shodaqoh Amal Jariyyah
Seseorang yang telah wafat atau meninggal dunia akan mendapatkan pahala yang yang terus mengalir dari amal jariyah yang telah ia sodaqohkan selama hidupnya.
Misal selama hidup ia memberikan sedekah amal untuk pembangunan masjid,pembuatan sumur,mewaqofkan Al-Qur'an untuk masjid dan lain sejenisnya.Selama sesuatu yang ia tinggalkan masih bermanfaat untuk masyarakat sebagai penunjang mengunduh pahala,maka ia (seseorang yang telah meninggal tersebut) akan terus mendapatkan pahalanya.2.Ilmu yang bermanfaat
Jika semasa hidup nya seseorang pernah mengajarkan sesuatu yang baik ke orang lain, seperti mengajari tata cara solat , membaca Al-Qur'an dan amal amal lainnya, maka orang tersebut akan mendapat pahala yang selalu mengalir dari apa yang telah ia ajarkan kepada orang lain, selama orang yang di ajarkan itu mengamalkannya.
3. Anak sholeh yang selalu mendoakannya
Di sinilah pentingnya pendidikan seorang anak,kalau bisa sejak kecil,seorang anak harus di didik dengan sebaik-baiknya pendidikan terutama masalah agama.
Karena anak yang soleh akan menjadi penolong terhadap kedua orang tuanya kelak di akhirat.
jangan sampai kita lalai,atau membiarkan anak kita bebas tidak mengetahui tentang agama,karena itu semua akan menjadi hujjat yang jelek diakhirat bagi kedua orang tuannya.

Artikel keren lainnya:

Malam Pertama, apa yang kau bayangkan...

"Satu hal sebagai bahan RENUNGAN kita …
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata.
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa
Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak
Saudara...
Hari itu… Mempelai sangat dimanjakan
Mandipun… Harus dimandikan..
Seluruh badan kita terbuka…
Tak ada sehelai benangpun menutupinya..
Tak ada sedikitpun rasa malu…
Seluruh badan digosok dan dibersihkan.
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang...?? Lubang itupun ditutupi kapas putih…
Itulah sosok kita..Itulah jasad kita waktu itu
Setelah dimandikan...
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
kain itu… Jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju kita..
Bagian kepala, badan dan kaki diikatkan
Tataplah.. tataplah .. Itulah wajah kita
Keranda pelaminan … langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian…
Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul kita
Diiringi langkah gontai seluruh keluarga.
Serta rasa haru para handai taulan.
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah kudus
Akad nikahnya bacaan talkin…
Berwalikan liang lahat…
Saksi-saksinya nisan-nisan... yang telah tiba duluan
Siraman air mawar…pengantar akhir kerinduan
Dan akhirnya….
Tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian..
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama KEKASIH.
.Ditemani rayap-rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah… Dan ketika 7 langkah tlah pergi…
Kitapun kan ditanyai oleh sang malaikat…
Kitapun tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat
Kubur…
Ataukah kita kan memperoleh Siksa Kubur…
Kita tak tahu…dan tak seorangpun yang tahu…
Tapi anehnya kita tak pernah galau ketakutan…
Padahal nikmat atau siksakah yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata…
Seolah barang berharga yang sangat mahal…
Dan Dia Kekasih itu…
Menetapkanmu ke syurga…
Atau melemparkan dirimu ke neraka…
Tentunya kita berharap menjadi ahli surga
Tap,,, tapi… sudah pantaskah sikap kita selama ini.
Untuk disebut sebagai ahli surga...??
Wahai Kekasih.. mohon maaf.. Jika malam itu aku tak menemanimu.
Bukan aku tak setia…
Bukan aku berkhianat...
Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan.
Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga
Aku berdo’a …
Semoga kita bisa menggapai husnul khotimah sehingga menjadi ahli surga.
Aamiin…
Hanya Saya

Artikel keren lainnya: